​4 Makna Paling Berharga Saat Kamu Bisa Memasak

Browse By

Memasak bukanlah identitas perempuan semata yang wajib dilakukan ketika kelak sudah berumahtangga. Menjadi lelaki dan mau bergelut di dapur juga bukan identitas yang asing.

Kamu yang memilih untuk tidak mau mengenal, belajar dan bisa memasak mari luangkan waktu sejenak membaca 4 makna berharga yang tersembunyi dari dunia Koki ini.

Berkarya

Kamu yang kreatif tentu tak pernah berhenti membuat itu ini. Hal-hal baru kamu ciptakan dan selalu menganggap mainstream terhadap sesuatu yang dibuat begitu-begitu saja. Tentu tidak akan terjadi bagi sebuah karya.

Seperti pelukis yang berkarya dengan melukis, kamu yang coba memasak sendiri sejatinya juga sedang memilih berkarya. Berawal dengan imajinasi akan hidangan apa yang tersaji nanti, kamu akan tergerak mengumpulkan bahan-bahannya. Kamu berproses ria dengan jurus memasak mengalir begitu saja  di dapur.

Baca dulu: Buat Kamu yang Suka Bete Sama Hari Senin, Lakukan 5 Hal Simple Ini

Sajian pun terhidang, aroma masakan pun terbang menyerang. Entah bagaimana penampilan, aroma dan rasanya tak usah dulu dipikirkan. Yang terpenting, satu yang kamu sudah hasilkan. Memasak itu terbukti berkarya. Dan untuk sajian karya masakan pertama, wajib bin kudu kamu sendiri yang awal mencicipinya. Berkata jujur setelahnya kepada hatimu dan siapapun. Haha

Cita Rasa

Memasak bukan sekedar menciptakan masakan. Kamu yang baru belajar memasak dibekali setumpuk buku resep memasak berbagai macam sajian, tetap akan berbeda hasil masakannya dengan mereka yang sudah berpengalaman.

Jam terbang memasak yang lama memang menjadi keharusan dalam berproses, namun ada hal lain yang tersembunyi namun mampu membuat cita rasa berbeda. Cinta. Begitu seorang koki atau juru masak mampu menghidangkan masakan yang luar biasa enak dan mahal. Koki mencintai profesinya dan begitu juga seorang ibu yang mencintai pasangan dan keluarganya, membuat masakan yang selalu bisa membuat anggota seisi rumah memilih makan tanpa harus keluar rumah.

Berhemat

Alasan cepat saji, tinggal santap dan pergi merupakan perilaku para bangsawan atau hartawan. Pembeli adalah tuan bagi penjualnya. Namun yang tidak kita sadari adalah menjadi tuan adalah budaya mengeluarkan uang dengan begitu mudahnya.

Kamu yang memilih hidup berhemat dengan banyak waktu luang yang ada untuk apa menjadi tuan? Selain berkarya dan melatih diri agar bisa berbagi dengan cinta dalam prosesnya, memasak adalah langkah penghematan yang cerdas. Kamu bisa belajar mengolah 3 hal dalam waktu bersamaan. Mengolah uang, waktu dan bahan makanan.

Berbahagia

Kamu pernah mendapati seorang ibu, koko di restoran, ang-abang tukang mie ayam, bakso, soto mie, martabak, ayam bakar, nasi goreng, mie goreng atau rebus, kwetiau, pecel lele, ayam, itik, burung dara, seafood, memasak sambil menangis? Melakukan penyajian dihadapanmu dengan air mata mengalir dan sesengukan tak berhenti.

Belum pernah dan tak pernah ada bukan? Karena memasak adalah cara lain kita berbagi terhadap diri sendiri dalam wujud interaksi semua panca indra dan berbagi terhadap sesama. Belum lagi mereka yang tengah dilanda lapar, memintamu memasak untuknya adalah sebuah kepercayaan yang begitu membahagiakan. Jadi tak heran jika seorang ibu yang sudah berlelah-lelah dengan pekerjaan rumah tetap bisa memasak dan menyajikannya tiga kali dalam sehari. Atau seorang tukang masak bahkan koki memasak sampai berkali-kali dalam waktu satu hari, satu minggu bahkan bertahun-tahun.

Masih tidak percaya bahwa memasak itu bisa membahagiakan? Datangi penjual martabak di pasar yang para pesaingnya bertetanggan ini. Sejemu atau selelah apapun mereka, kamu yang datang memesan dan melakukan pembelian terasa salin berbahagia bukan?
TempeBener.com juga pernah berbahagia hanya dengan memasak. Kalau kamu, masih beralasan untuk tidak memasak karena banyak uang? Berkarya, bercita rasa, berhemat dan berbahagia bisa kamu dapatkan sekaligus hanya dengan satu langkah, memasak.

Selamat mencoba!

Baca juga: Untuk Wanitaku di Masa Depan, Mari Kita Berteman

Comments

comments