Browse By

Untuk Kamu yang Memilih Berlama-lama Gagal, Lagu Banda Neira Ini Bisa Membuatmu Berubah Total!

Lazada Indonesia

Seperti Bumi yang berbentuk melingkar, begitupun kehidupan ini. Jangan sesalkan hidup ketika kamu tengah dilanda duka sampai merasa terkoyak terhadap masalah yang datang menerpa. Semua insan pasti akan atau pernah merasakannya. Ini realita dan kamu tak bisa memisahkannya.

Meski begitu Banda Neira lewat lagu “Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti” menitipkan pesan kuat kepada siapapun dari kita yang merasah patah hati dan ingin menghilang dari kehidupan ini. Berikut TempeBener.com berbagi inspirasi tersirat dari lirik yang dikarang langsung oleh Ananda Badudu dan Rara Sekar ini.

 

“Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti”

Jatuh dan tersungkur di tanah aku
Berselimut debu sekujur tubuhku
Panas dan menyengat
Rebah dan berkarat

Kamu yang sedang terjatuh dari ketinggian keinginan, pencapaian atau kedudukan, sampai tersungkur begitu gagal dan hina di mata orang, dengarkan ini baik-baik ya. Bagaimanapun penampilanmu saat ini, derai air mata yang tak kunjung berhenti sampai tak berkeinginan untuk mandi ambil nafas dalam-dalam dan keluarkan perlahan.

Buka matamu dan perhatikan wajahmu. Kusam, jauh dari cahaya sinar karena senyum berserimu telah hilang. Masih ingin tetap begitu, hingga membiarkanmu pucat dan mengkerut loyo seperti besi tak berguna yang berkarat menjelang masa tak berdayanya.

 

yang patah tumbuh, yang hilang berganti


Kamu yang merasa patah hati karena asmara, karir, penyakit atau apapun itu percayalah bahwa itu adalah masa hidupmu dimana kamu terlihat patah. Namun ada dua hal yang juga tak bisa kamu biarkan patah begitu saja. Berdoa dan keyakinan adalah dua hal terhadap apapun dalam hidup yang bisa membuatmu kembali bangkit.

Kamu akan percaya bahwa harapan itu bisa tumbuh dan kembali menyatu dari keinginan atau semangat yang sebelumnya telah patah. Dan segala sesuatu dari yang patah itu memang telah membuatmu kehilangan segalanya. Cinta, harapan dan kebahagiaan kelak akan kembali datang. Yakini itu. Mereka tidak hilang selamanya, mereka hanya pergi dan kelak akan berganti. Seperti hujan yang menggantikan terik, begitulah hidup.

 

Yang hancur lebur akan terobati

Untuk apa terus berdiam diri, yang tanpa sadar kamu telah menceburkan dirimu dalam laut hitam kenestapaan. Hei kau tahu bahwa lautan biru itu asin apalagi yang hitam berwarna, pekat pula. Apakah kau yakin bisa hidup lama dengan membiarkanmu tenggelam di dalamnya.

Jangan sesekali kamu merasa hancur dan melebur bersama air hanya karena kamu menyimpulkan bahwa kegagalanmu dalam hidup tak ada lagi obatnya. Sadarlahlah kamu yang saat ini hidup tidak ditopang dengan seluruh organ tubuhmu atau materi apapun yang kamu memiliki. Ingatlah kamu punya hati dan akal, yang keduanya sesakit atau rusak sekalipun masih memiliki obat penyembuh. Percaya diri, begitu kiranya.

Yang sia-sia akan jadi makna

Kamu boleh menyesali bahwa kejatuhanmu saat ini adalah kesia-siaan yang tak perlu terjadi dalam hidupmu. Tapi apa boleh buat, sesuatu yang terjadi bukankah karena memang ada penyebabnya. Kamu harus menyadari jika kegagalan ini adalah hasil dari usahamu sendiri. Kamu memilihnya, kamu yang melakukannya. Bukan orang lain, karena orang lain takkan ada habisnya kamu persalahkan.

Buka hatimu dan jernihkan pikiranmu. Kesia-siaan ini akan semakin berkeruh saat kamu terus mengalirinya dengan tangisan penyesalan dan hujatan berkepanjangan. Lihat untuk kamu pelajari, bukan disalahkan karena salah tapi mencari cara bagaimana titik itu bisa menjadi nilai kebenaran yang seharusnya, ini adalah tindakan bijaksana. Kesalahan akan membuatmu menjadi menerima dan bisa menilainya sebagai sebuah makna.

 

Yang terus berulang suatu saat henti

Pernahkah kamu menghitung berapa usiamu sekarang? Hanya tahu bilangan dan mengenyampingkan apa saja yang telah jauh terjadi dalam perjalanannya. Begitupun kegagalan, adalah hasil yang kemungkinan bisa muncul terulang. Ini bisa terjadi kapan saja, tapi catat tentu dengan jenis kegagalan yang berbeda macam atau jenisnya. Gagal boleh tapi kalau terjadi karena dibuat sengaja, betapa kamu tidak menghargai arti dari sebuah kesempatan. Kembali mengulang kegagalan sampai kamu membiarkannya berkali-kali tanpa ada usaha memperbaiki juga sebuah tindakan pembodohan.

Hentikan kegalalan yang terjadi berulang. Tanya hati dan akalmu, tidakkah kamu mempelajari apa yang menjadikanmu gagal saat ini? Sampai kegagalan itu membuatmu tak lagi memberimu kesempatan untuk memperbaiki, mencobanya sekali lagi. Apa yang akan kamu perbuat?

Mari menyambut kegagalan yang datang. Merangkulnya seraya mengamati bagaimana ia datang dan terjadi. Cukup sekali atau kamu tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk kembali mencoba walau dipastikan kegagalan tak kan mungkin bisa kembali terulang.

 

Di mana ada musim yang menunggu?
Meranggas merapuh
Berganti dan luruh
Bayang yang berserah
Terang di ujung sana

Kamu yang bernyawa dan berakal, kenapa masih menunggu air matamu berhenti mengalir dari sumbernya, atau menunggu seseorang datang bertanya dan menyeka. Lihat saja musim, mereka mati tapi tak pernah menunggu masa. Mereka datang silih berganti layaknya transportasi yang jalan berarak melewatimu di sisi jalan.

Dengan segala kegagalan yang kamu akui telah terjadi, ikat dan serahkan saja kepada Sang Pencipta. Menyerahkan dalam bentuk peraduan dalam sujud kepada-Nya adalah bentuk kerendah hatian seorang hamba kepada Tuhannya. Tiada daya dan upaya serta cahaya terang berupa pertolongan selain dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Demikian utaran makna yang tersirat dari sebuah lagu yang berasal dari album kedua Banda Neira, “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti. Album yang dirilis oleh Ananda Badudu dan Rara Sekar pada tahun 2016 ini sekaligus sebagai penanda vakumnya Banda Neira. Bukan karena merasa gagal sebagai band Indie tanah air, tapi karena Rara Sekar akan melanjutkan pendidikannya. Kalau kamu sahabar mau vakum dan akan berbuat apa? Semoga positive ya tentunya.

Baca juga: 6 Kebiasaan yang Membuktikan Kalau Kamu Benar-benar Merdeka

Comments

comments