Browse By

Asma Nadia – Penulis Produktif Wanita dari Indonesia

Duduk di sekolah menengah, Asma Nadia untuk pertama kalinya mencoba menulis cerpen. Kata demi kata, dan kalimat demi kalimat cerpen pertama Asma Nadia disusunnya dengan begitu lama. Ketika selesai, dengan semangat cerpen pertamanya Asma itu ia serahkan kepada seorang seniornya di  teater. Asma Nadia menghormati sosok orang itu, dan meminta pendapat terhadap cerpen pertamanya adalah pilihan tepat.

“Cerpennya picisan! Gak Istimewa!” jawab sang senior ketus dan pedas.

Sakit hati, tentu. Sampai seorang redaktur majalah Islam meminta Asma Nadia menulis cerpen, ia ragu dan mengatakan,

“Saya tidak yakin bisa menulis. Menulis bukan bakat saya.”

***

Helvy Tiana Rosa, kakak Asma Nadia kebetulan memiliki segudang pengalaman menulis di berbagai media. Sang kakak selalu mendorong dan mendukung adiknya Asma Nadia untuk menulis dan terus menulis.

Butuh waktu lama bagi sang kakak meyakinkan bahwa Asma Nadia, adiknya itu bisa menulis. Segala cara dan nasehat dilakukan sang kakak, sampai Asma Nadia mulai kembali memberanikan diri menulis.

***

Usaha sang kakak tak sia-sia. Cerpen Asma Nadia pun terlahir kembali. Satu, dua dan beberapa cerpennya ia kirim ke majalah. Tidak semua diterima, tapi ada yang diterima. Asma Nadia mulai berbahagia. Lomba kepenulisan dia ikutinya. Tidak melulu kalah sesekali Asma Nadia menjuarainya.

Kini Asma Nadia bukanlah penulis biasa, ia dikenal sebagai salah satu penulis perempuan best-seller Indonesia yang paling produktif sampai saat ini. Asma Nadia telah menulis lebih dari 40 buku novel dan kumpulan cerpen, puluhan buku antologi, dan mensupervisi 150-an buku. Setidaknya lebih dari 1 juta eksemplar bukunya telah tersebar di seluruh Indonesia.

Tercatat bahwa Asma Nadia sudah pernah menerima 7 penghargaan nasional di bidang kepenulisan serta diundang dalam berbagai forum nasional maupun internasional, diantaranya: Korea, Mesir, Malaysia, Hong Kong, Brunei Darusalam, Swiss, Jerman, Italy, Inggris, dan Jepang. Beberapa bukunya pun telah diterbitkan di negara lain, seperti Malaysia dan India.

Beberapa karyanya sudah masuk ke layar kaca, bahkan cerpen Asma Nadia berjudul, “Emak Ingin Naik Haji” diadaptasi ke layar lebar dan mendapatkan 6 nominasi dalam FFI.

Comments

comments