Browse By

4 Warisan Tersirat dari Puisi “Aku” Chairil Anwar

28 April menjadi hari bersejarah bagi kalangan sastrawan dan budayawan, khususnya bagi para penyair tanah air. Dan meninggalnya sosok penyair legendaris, Chairil Anwar pada tanggal tersebut telah menginspirasi pemerintah Indonesia menjadikanya sebagai Hari Puisi Nasional.

Puisi berjudul “Aku” tak kalah menjadi puisi terkenal sebagaimana penulisnya. Film besutan Mira Lesmana dan Riri Reza berjudul Ada Apa dengan Cinta mengangkat sosok Rangga yang tampil dengan buku “Aku” sebagai pegangan di masa SMA nya. Hasilnya, Rangga dan puisi-puisi Chairil sempat menjadi trend di kalangan anak muda tanah air.

Agar kamu bisa menjalani hari dengan bersemangat, TempeBener.com memiliki 4 warisan inspiratif dari puisi “Aku” yang ditulis dengan begitu luarbiasa oleh pujangga ternama Chairi Anwar. Berikut puisi berjudul “Aku” untuk kembali kita baca, kenang dan semoga hadirkan rasa semangat berjuang.

Keakuan

AKU

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Membaca judul puisi Chairil Anwar yang satu ini saja sudah membuat kita seolah menyapa awal diri kita dari kedalaman sanubari. Sebuah pengakuan diri, seolah membanggakan diri dan kepercayaan pada diri sendiri yang teramat tinggi dihadirkan Chairil dalam memulai sajak puisi ini.

Entah kapan Chairil menghabiskan sisa hidupnya tak ada yang tahu. Tapi ia menitipkan pesan bahwa siapapun tak perlu datang menawarkan diri, berbaik hati dengan mendatangkan para tabib atau dokter untuk mengobatinya jikalau sakit atau menjaga nyawanya saat ajal datang menjelang.

Chairil juga begitu tak ingin jika meninggalkannya kelak, pun dengan alasan mencintai atau menghormatinya, tangisan sesengukan amat tak berarti baginya. Chairil tetap Chairil, ada dan tiadanya adalah “Aku” sebagaimana wujud dari puisinya itu.

Liar

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Sejalang apa Chairil sampai dalam puisinya ia mengaku tanpa malu dan seolah bangga dengan julukan dirinya itu. Sejalang puisinya yang berbeda dengan puisi-puisi lama milik kebudayaan Indonesia.

Gaya bicara dan cara hidupnya liar dan dari setiap diksi puisi-puisinya juga tergambar. Ah bukankah seseorang juga dinilai dari bagaimana dia berbicara? Begitupun Chairil, dengan puisinya ia tanpa kita sadar mengenalkan dirinya sebagai sosok manusia yang liar.

Tapi kejujuran dan keberanian inilah sebetulnya yang diungkapkan Chairil. Dia memang sosok liar, dianggap berbeda dari golongan kaum penyair atau manusaia-manusia Indonesia pada masa itu.

Di tengah perang sana-sini Chairil dengan tanpa bedil atau sebapan tetap tampil dengan kepercayaan diri yang luarbiasa lewat puisinya sebagai manusia. Tentu bukan manusia biasa, melainkan manusia yang dianggap dan diperlakukan seperti binatang oleh para penjajah. Nyawa dan kematian di ujung senjata prajurit Jepang, Chairil tak peduli karena ia memilih menjalang, bebas hidup liar semaunya.

Ketangguhan

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Chairil tak memegang senjata apapun sebagai bentuk perlawanan terhadap kesemena-menaan sekutu di tanah air. Masa mudanya dia habiskan di sekolah, belajar beberapa bahasa asing dan mempelajari buku-buku sastra.

Karenanya Chairil tak takut mati. Ia tahu bahwa sebutir peluru timah panas bisa menembus organ tubuh manapun. Melukai, melemahkan bahkan bisa sampai membunuh. Namun semua ketakutan tidak akan membuat Chairil berhenti. Ia malah balas menerjang, terus berpuisi walau penyakit yang dideritanya sesekali membuatnya meradang.

Chairil hanya percaya bahwa semua harus terus berjalan dihadapi. Seperti membuat puisi, walau terus ada saja yang mengintervensi, Chairil tak pernah berhenti. Ia membawanya berlari, menggambarkannya dalam setiap baris puisi-puisnya. Hingga ajal tiba, rasa sakit dihinakan dengan bisa itu hilang akhirnya.

Berkarya

Dan aku akan tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Di ujung akhir hayat, Chairil tetap berpuisi. Chairil berkarya dan percaya dengannya itu ia bisa menyumbangkan jasa untuk ibu pertiwi. Ya sekalipun itu berupa puluhan judul puisi.

Ungkapan Chairil ingin hidup seribu tahun lagi adalah cara halusnya mengingatkan kita, rakyat Indonesia lainnya akan dua hal. Pertama, hitungan bisa bertahan hidup dalam kurun waktu seribu tahun lagi adalah mustahil. Namun kalimat itu bukan sekedar mimpi. Chairil dengan berkarya, telah membuktikannya bahwa jasadnya memang telah dimakamkan namun suara-suara puisinya tak pernah mati atau padam dibacakan. Kedua, Chairil seolah mengingatkan kita untuk mensyukuri kemerdekaan NKRI yang ada sekarang, bahkan seribu tahun kedepan atau lebih. Chairil seolah ingin hidup melihat dan terus menyaksikan bagaimana perkembangan Indonesia kedepan.

Chairil yang mati muda seolah siap mengawal Indonesia. Bagaimanapun kondisinya, berkarya dengan cara berpuisi akan senantiasa dia suarakan dengan lantang. Begitu Chairil Anwar, bagaimana denganmu sahabat, karya apa yang akan kamu tunjukan kepada Republik Indonesia kita ini?

Baca juga: Asma Nadia – Penulis Produktif Wanita dari Indonesia

Comments

comments