Browse By

Tipu Daya Memori Manusia dalam Novel Thriller, Sebuah Ulasan “The Girl on the Train” oleh Paula Hawkins

Suatu pagi, Rachel Watson bangun tidur dengan keadaan kacau. Telanjang, ada darah di kepala dan tangannya, serta dia merasakan nyeri karena banyak memar di sekujur tubuhnya. Dia bingung dan bertanya-tanya. Bagaimana bisa dia terjaga dengan kondisi seperti ini. Apa yang sudah dia lakukan sebelum tidur. Dia berusaha mengingat dan terus mengingat. Namun, tidak satu pun memori pada malam sebelumnya berhasil dia “panggil”. Gelap. Dia blackout.

Blackout adalah kondisi ketika seseorang tidak bisa mengingat kembali suatu memori pada waktu tertentu karena satu dan lain hal. Salah satunya karena mabuk berat. Dia merasa mengalami sesuatu, namun tidak bisa mengingat detailnya. Pengaruh alkohol yang cukup kuat membuat daya ingatnya menjadi berantakan. Sekeras apa pun dia mengingat, yang ada hanyalah kegelapan. Dengan kata lain, dia “kehilangan” memori itu.

Novel “The Girl on the Train” tidak diawali dengan adegan seperti yang digambarkan di atas. Namun, adegan itu adalah kunci dari seluruh plot dalam buku karya Paula Hawkins. Apa yang dilakukan Rachel pada suatu malam, akan mengungkap siapa pembunuh yang menjadi misteri dalam kisah thriller psikologis ini. Dengan piawai, penulis wanita asal Inggris ini membuat cerita tentang kompleksitas memori manusia menjadi seru untuk dibaca.

Pada dasarnya, novel ini berkisah tentang pengungkapan sebuah misteri pembunuhan. Rachel, tokoh utama dalam cerita ini, berusaha mencari tahu siapa pembunuh Megan Hipwell. Namun, semakin dia mencari tahu, semakin dia mengalami ketidakpercayaan dan kepanikan. Hampir semua petunjuk mengarah kepada Scott Hipwell, suami Megan. Tapi, apakah benar Scott setega itu? Mana mungkin dia membunuh istrinya sendiri?

Tidak hanya itu. Terungkap juga ternyata Rachel berhubungan dengan insiden mengerikan ini. Seseorang melihat Rachel berada di waktu dan tempat yang sama dengan Megan ketika wanita itu menghilang, yang di kemudian hari, Megan ditemukan tidak bernyawa lagi.

Rachel gelisah. Dia merasa tidak bertemu Megan pada waktu itu. Namun, dia juga tidak benar-benar yakin karena saat itu dia sedang mabuk berat. Dia pun berusaha dengan berbagai cara agar bisa mengingat kembali memori yang “hilang” karena blackout. Dia yakin jika dia dapat “melihat” lagi apa saja yang dia lakukan pada waktu krusial itu, dia akan mengetahui siapa pembunuh Megan sebenarnya. Tapi, ketika memori pada malam itu sedikit demi sedikit bisa dia ingat, dia panik karena… ada kemungkinan dia bisa saja membunuh Megan secara tidak sadar karena sedang mabuk.

Rachel membuat pembaca kasihan sekaligus kesal. Bisakah seorang alkoholik keras berat seperti Rachel dapat dipercaya kata-katanya? Namun, bukan hanya Rachel. Tokoh-tokoh lain pun; seperti Scott, Kamal Abdic (terapis Megan), dan lelaki misterius yang menjadi selingkuhan Megan, dibuat Hawkins memiliki motif untuk membunuh Megan. Sehingga pembaca penasaran dan bertanya-tanya, siapa pembunuh sebenarnya. Ketiga lelaki itu, kah? Atau, ada orang lain lagi?

Betapa ingatan atau memori manusia menjadi suatu hal yang tidak pasti. Ingatan bisa terdistorsi karena setiap detik, manusia melakukan sesuatu, mencipta kenangan baru. Setiap detik itu pula ingatan baru mengalir ke pikiran, menumpuk, dan mengaburkan ingatan yang lama. Memori tertentu yang seseorang pikirkan saat ini, belum tentu memiliki detail yang sama seperti pada saat memori itu dilakukan pada masa yang sudah lewat. Terlebih jika dalam keadaan tidak sadar atau mabuk. Alkohol dapat membuat ingatan manusia semakin tidak keruan. Ingatan bisa menipu manusia. Memori punya daya mengaburkan segalanya.

Jika kamu menyukai fiksi dengan genre thriller, atau hanya penasaran dengan kisah ini, kamu bisa membaca “The Girl on the Train”. Jalinan cerita yang dirangkai Hawkins akan membuat kamu, tanpa bisa dicegah, terus menerus membalik tiap halamannya sampai akhir. Bahkan, bisa sampai bergadang karena sangat penasaran siapa yang menjadi pembunuh sebenarnya.

Sangat disarankan untuk membaca novel ini terlebih dahulu sebelum filmnya tayang Oktober tahun ini. Sebab, ada hal-hal yang lebih seru jika mengikuti kisah ini lewat kata-kata, ketimbang gabungan gambar dan suara di layar besar. Salah satunya adalah semua adegan Megan bersama lelaki misterius yang menjadi selingkuhannya. Dan tentu saja, ketika penulis mengungkap plottwist cerita ini. Kamu tidak akan menyangka ternyata “orang itu” pelakunya.

Jadi, selamat membaca! Dan hati-hati dengan ingatan kamu sendiri!

Resensi novel the girl on the train

Cover depan novel “The Girl On The Train”

THE GIRL ON THE TRAIN

Paula Hawkins

430 halaman

Goodreads rating: 3,85

Cetakan I, Agustus 2015

Noura Books

Comments

comments