Browse By

Meski Bengal, Monyet Ini Membuat Kekasihnya Tetap Setia Total

Menjadi sosok yang dikatakan pembual, dibilang pembuat onar dan dianggap gila atas jalan pikiran yang berbeda adalah kenyataan yang menimpa Entang Kosasih di sekumpulan monyet-monyet Rawa Kalong. Dari semua hal buruk itu hanya seekor monyet betina saja yang bersikap sebaliknya. O namanya dan ia malah mengaku telah dibuat jatuh cinta karena semua itu. O menilai Entang Kosasih adalah monyet jantan pemberani dan mengagumkan karena tak pernah berhenti berjuang mewujudkan impian yaitu seekor monyet yang bisa menjadi seorang manusia.

O adalah seekor monyet betina yang menjadi pemeran utama sekaligus judul novel keempat karya Eka Kurniawan, sastrawan Indonesia. Begitu menarik karena perjalanan cinta O dengan Entang Kosasih dikisahkan menjadi tulang punggung cerita dalam novel ini. Berikut Tempe Community menyimpulkan 3 alasan yang membuat O tetap bersetia kepada kekasihnya, Entang Kosasih.

Baca dulu: Meneguhkan Cinta dengan Sabar, darimu Sabari Kita Bisa Belajar

Percaya Diri

“Entang Kosasih, seekor monyet yang percaya kepada isi kepalanya, dan mau melakukannya.” Kata O (hal—391)

Suatu waktu banjir melanda Rawa Kalong. Sekelompok monyet terjebak di satu pohon gundul selama empat hari dan sangat kelaparan, tentu tak ada yang bisa berenang terlebih mereka juga ketakutan karena beberapa punggung buaya.

“Kita bisa pergi ke darat dengan melompat dari punggung buaya satu ke yang lain,” kata Entang Kosasih. (hal—391)

Itulah gagasan monyet bengal yang tak terpikirkan oleh monyet-monyet lain karena dianggap sinting. Mereka menganggap bodoh dan menertawakan Entang Kosasih. Di hari kelima, Entang Kosasih sambil berpegangan tangan O membuktikannya. Mereka berdua melompat-lompati punggung buaya dan terbukti berhasil!

Acting “Out of The Box”

“Aku menganggapmu gila sejak pertama kali kita bertemu. Semua yang kau katakan, semua yang kau inginkan, semua yang kau lakukan, menunjukan kegilaanmu. Aku mencintaimu, dan mencintai kegilaanmu.” Jawab O saat Entang Kosasih memastikan apakah O menganggapnya gila atau tidak. (hal—258)

Hidup sebagai monyet berkelompok di Rawa Kalong sudah pasti hafal betul dengan kisah Armo Gundul. Para monyet tetua sebagaimana dikisahkan oleh leluhur monyet mereka bercerita bahwa asal muasal monyet berawal dari seekor ikan, kemudian menjadi monyet dan kelak bisa menjadi manusia. Armo Gundul dengan segala perjalanan hidupnya adalah pemeran utama yang diceritakan oleh para monyet tetua itu.

Entang Kosasih juga percaya bahwa monyet bisa menjadi manusia dan ia juga berambisi mengikuti jejak Armo Gundul. Namun Entang Kosasih menolak keras bahwa seekor monyet menjadi seorang manusia tidak mesti dengan menjadi Topeng Monyet.

“Armo Gundul bisa melakukannya melalui topeng monyet, bukan dengan cara lain,” kata seekor monyet tua.

“Dan jika tak ada topeng monyet?” tanya Entang Kosasih.

“Kau hidup terlalu tua sampai tak bisa melihat, selalu ada jalan untuk segala sesuatu.” (hal—227)

Entang Kosasih memang sering melakukan pertentangan walau mengundang maut sekalipun. Kegilaan yang dilakukan kekasihnya O itu ditunjukan ketika para monyet-monyet berteriak-teriak menyaksikan seekor sanca seukuran paha orang dewasa menyambar Uyung, bocah lelaki yang sedang berak di rawa. Boboh, demikian nama sanca betina itu membelit tubuh Uyung kuat-kuat. Para monyet membenci Boboh namun tak ada satupun yang berani melawannya, hanya berteriak-teriak ketakutan dan kasihan.

Tapi Entang Kosasih, monyet gila itu datang dan menghancurkan empat telur milik sanca betina. Satu persatu telur dipecahkan setelah permintaan Entang Kosasih melepaskan Uyung dari jeratan Boboh tak dipenuhi. Seluruh monyet di Rawa Kalong yang menyaksikan peristiwa itu dibuat pucat pasi. Pasalnya hanya seekor monyet dungu yang mau berhadapan dengan sanca betina pemakan hewan apa saja. Jangankan tikus rawa dia makan kambing hutan pun bisa ia telan apalagi hanya seekor monyet tolol. O yang turut menyaksikan laga heroik kekasihnya itu dibuat takut dan juga tak bisa berbuat apa-apa.

Boboh tetap memenangkan pertarungan sekalipun ibu si Uyung yang datang menyerang namun dengan mudah juga dilumpuhkan. Sedangkan Entang Kosasih menghindar saat dua orang Polisi, Sobar dan Joni Simbolon datang bersama beberapa tukang ojek ke lokasi. Mereka mencoba melawan Boboh dengan revolver di tangan, dan Entang Kosasih menyaksikan dan memikirkan sesuatu.

“Dor!!!” Sobar berhasil menembak pangkal kepala Boboh hingga mengucurkan darah. Namun Boboh tetap hidup dan coba kembali menyerang. Pada tembakan kali kedua Sobar ke batok kepala sanca, Boboh baru terjatuh dan tewas.

Demikian dramatis peristiwa itu terjadi dan kebengalan Entang Kosasih pun semakin menjadi-jadi.

“Aku tahu ini alat untuk membunuh. Justru karena itulah aku mencurinya. Kau tahu, semua mahkluk hidup dengan alat pembunuh. Tanpa itu, mereka tak akan bertahan di dunia ini.” Kata Entang Kosasih. (hal—233)

Cara manusia bertahan hidup dengan membunuh menggunakan alat itu adalah perilaku manusia, pikir Entang Kosasih menyimpulkan. Karena itulah Entang Kosasih mencuri revolver milik seorang polisi bernama Sobar, terkagum-kagum setelah Sobar menggunakannya untuk meledakan kepala Boboh. Entang Kosasih tahu fungsi revolver ia tapi sayang ia tidak tahu cara mempergunakannya.

Joni Simbolon, rekan kerja Sobar sesama Polisi itu melesatkan senjata kearah Entang Kosasih sebanyak dua kali. Yang pertama menyasar ke batang pohon sedangkan yang kedua tepat mengenai tubuh monyet, sayangnya itu bukan Entang Kosasih. Kedua polisi itu tidak menyadari bahwa tembakan kedua dijadikan materi praktek cara menggunakan revolver dan menembak bagi Entang Kosasih. Tak berselang lama, Entang Kosasih menarik pelatuk revolver tepat ke arah dada kiri seorang polisi yang tadi mengincarnya. Joni Simbolon ambruk mengeluarkan banyak darah dan akhirnya tewas.

Menjanjikan Kawin

“Demi Tuhan, O. Kau tidak mendengar, bahwa kita akan kawin di bulan kesepuluh. Itu rencana. Itu rencana besar. Jangan bilang kita tak punya rencana apa pun.” Janji Entang Kosasih (hal—5)

O tetap menjalin cinta walau dengan monyet yang paling bengal itu sekalipun. O sosok betina yang sabar dan setia. Tak bengal seperti Entang Kosasih, ada beberapa monyet baik juga yang datang menawarkan hati namun O tidak menyambutnya. Hati O hanya untuk Entang Kosasih dan O tetap menjaga kesetiaannya itu serta bersabar menunggu Entang Kosasih mewujudkan rencananya itu: kawin di bulan kesepuluh.

Entang Kosasih yang berambisi menjadi seorang manusia disisi lain juga berjanji akan mengawini O pada bulan kesepuluh adalah dua tujuan yang bertolak belakang karena itu memang bertentangan. Jika Entang Kosasih berhasil menjadi seorang manusia bagaimana dengan O? Tak mungkin manusia kawin dengan seekor monyet. Bahkan Entang Kosasih juga belum merencanakan atau menyiapkan apa-apa sebelum ia dan O kawin di bulan kesepuluh.

 

Bisakah Entang Kosasih menjadi seorang manusia?

Apakah Entang Kosasih dan O jadi kawin pada bulan kesepuluh?

img-20160914-wa0000

Lewat novel O, Eka Kurniawan akan mengajak kita berimajinasi jauh tentang beberapa hewan, manusia dan benda mati yang mengantarkan kita mampu menelusuri perjalanan cinta dua monyet Rawa Kalong ini. Sampai novel ini selesai kita baca, bisa jadi akan muncul pertanyaan seperti ini,

“Entang Kosasih dan O adalah sepasang kekasih monyet yang ingin menjadi manusia atau manusia sendiri yang sejatinya berperilaku seperti monyet dan binatang lainnya?”

Lebih dari sekedar soal cinta, asmara, uang, kekuasaan dan nilai religi juga tertuang dalam novel keempat karya Eka Kurniawan ini.

Selamat Membaca!

Baca juga: Tipu Daya Memori Manusia dalam Novel Thriller, Sebuah Ulasan “The Girl on the Train” oleh Paula Hawkins

 

Comments

comments