Browse By

Meneguhkan Cinta dengan Sabar, darimu Sabari Kita Bisa Belajar

Sabari adalah sosok lelaki yang dikisahkan penulis novel Indonesia ternama Andrea Hirata. Sesuai dengan namanya, Sabari memang demikian begitu sabar dalam menjalani hidup. Dan jatuh cinta benar-benar telah menjadi garis start Sabari memulai kesabaran dalam hari-harinya sampai akhir hayatnya kelak.

Bagaimana bisa seorang lelaki remaja SMP jatuh hati kepada anak perempuan yang merebut lembar jawaban Bahasa Indonesia miliknya ketika mengikuti ujian seleksi masuk SMA Negeri? Awal bersekolah di SMA Negeri itu dan perasaan cinta juga mulai tumbuh dalam diri Sabari yang dari SD selalu mengeyampingkannya. Sabari tahu bahwa perempuan yang dia taksir satu sekolah dengannya, namun betapa sabarnya Sabari sampai dia mereka lulus dan sampai usia Sabari berkepala tiga pun cinta Sabari tak bersambut. Ditolak cintanya berkali-kali walau Sabari selalu tampil berprestasi dalam bahasa Indonesia, puisi, balap lari dan bekerja. Sabari begitu menggesankan di mata seluruh warga Belantik, tapi tidak bagi perempuan yang dia suka.

Sabari memilih kerja di perusahaan milik keluarga perempuan yang dicintanya dengan alasan agar ia berjarak lebih dekat dan bisa sering melihat perempuannya . Sabari yang begitu ulet, trampil dan rajin dalam bekerja mendapatkan penghargaan sebagai karyawan terbaik dari pemilik perusahaan, ayah perempuan yang galak bukan main. Bukan karena modal prestasi yang diraih Sabari, tapi karena ketulusan atau mungkin kepolosan cintanya, Sabari rela bahkan merasa senang tak terperi karena dinikahkan bosnya dengan putrinya, perempuan yang bertahun-tahun dikejar Sabari itu. Tentu bukan berarti cinta Sabari diterima, melainkan untuk menutupi aib perempuan agar kehormatan keluarganya yang terpandang itu juga terjaga.

Setelah menikah, bersentuhan dengan istrinya pun tidak tetapi jelang beberapa bulan seorang bayi laki-laki terlahir. Sabari menyambutnya dengan suka cita, dia yang mengurus dan mengasuhnya seorang diri karena kemudian ibu kandung atau istrinya yang tak pernah tinggal satu kamar bahkan rumah itu pergi meninggalkan mereka dengan satu alasan, tak ada cinta untuk Sabari.

Tak ada perempuan yang dia cinta tapi Sabari tetap berbahagia karena bisa hidup bersama anak lelaki itu, buah hati oranglain sekalipun. Rumah sederhana yang sudah Sabari bangun susah payah sebelum menikah itu hanya diisi mereka berdua. Meski begitu kebahagiaan selalu hadir lewat puisi dan cerita-cerita yang diantarkan Sabari menjelang tidur anak lelaki asuhannya itu.

Betapa Sabari tetap bersabar saat istrinya menggugat cerai. Sabari mengiyakan walau berat. Namun hal yang paling menyakitkan bagi Sabari bukan karena perempuannya itu telah dengan mudah kemudian menikah lagi, melainkan kekhawatiran akan perpisahan yang kelak menjadi kenyataan.

Setiap sore Sabari mengajak anak lelaki asuhnya itu ke balai kota, duduk di bangku tamannya sambil menikmati kembang gula. Hingga suatu sore yang berawan, Sabari pergi membeli balon sebentar dan sekembalinya ia menemukan anak lelakinya itu dikerubungi tiga laki-laki dan satu perempuan, mantan istrinya. Dua lelaki menghalangi Sabari sedangkan mantan istrinya pergi bersama seorang lelaki membawa anak lelaki asuhnya yang meronta-ronta sambil menangis memanggil-manggil Sabari dengan panggilan, “Aya… Aya…”.

Sabari yang begitu sabar. Ia tak pernah melawan kenyataan, mengangkat suara bahkan membentak sebagai bentuk kekesalan kepada istrinya. Sabari memilih menjadi majenun. Bertahun-tahun Sabari hidup tanpa anak lelaki yang dirampas oleh ibu kandungnya itu. Perilaku majenun Sabari menjadi-jadi dengan fisiknya yang kurus, rumah yang tak lagi terurus serta hidup menggelandang di pasar ikan bersama sepi walau kucing-kucing pasar mengeong panjang dan anjing-anjing pasar menyalak.

Sabari tak tahu kalau mantan istrinya itu telah menikah lagi, cerai dan menikah lagi. Begitu berkali-kali sampai mantan istrinya sudah berumah tangga bersama tiga laki-laki sepeninggal Sabari. Selama masa pergantian itu juga anak lelaki yang ibunya suka cepat bosan dan berontak jika tak sejalan, ikut hidup berganti daerah dan berganti ayah. Setiap malam, anak lelaki itu hanya mampu tidur dengan sepotong kemeja yang terbawa di tasnya. Bau lelaki bernama Sabari melekat dengan kemeja itu, tapi anak lelaki itu sendiri tak tahu. Ia hanya merasa tenang dan senang jika memeluknya tanpa tahu kemeja itu milik siapa. Anak lelaki tumbuh dengan pintar berbahasa, bercerita dan tentu saja berpuisi juga. Ia sering menjadi juara kelas walau sekolahnya berpindah-pindah mengikuti kehendak ibunya.

Kesabaran tentu saja melekat tidak hanya pada nama Sabari tapi juga jiwa dan raganya. Bertahun-tahun Sabari mencari-cari kemana pergi anak lelaki asuhannya itu. Tak percuma selama ini Sabari bersabar. Berkat kesabaran Sabari bersahabat menahun dengan dua lelaki yang bermasalah dalam pelajaran di kelas dan kisah asmara itu, akhirnya juga membuahkan hasil. Kedua sahabat Sabari yang tak tega menyaksikan kegilaan Sabari karena cinta, membuat mereka melanglang buana mengikuti jejak mantan istri Sabari. Mencari ke daerah-daerah diluar Belitong berbulan-bulan, mendatangi para mantan suami kedua, ketiga dan keempat.

Sabari yang memasuki delapan tahun kegilaan tapi selalu bersabar itu akhirnya mendapat kabar bahwa mantan istri dan anak lelakinya telah ditemukan. Kedua teman Sabari mengirimkan sebuah surat, mereka berjanji akan membawa pulang anak lelaki yang dulu diasuhnya dengan balutan puisi dan narasi.

Bahagia hati Sabari, semua hal dalam hidupnya yang porak poranda dibangunnya kembali. Kembali bekerja apa saja agar bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Untuk apa? Dibereskan kembali rumah kumuhnya, teratur lagi makan-minum dan penampilan Sabari. Dan untuk lebih membuat anak lelaki itu bangga kepada Sabari sebagai “Aya” nya saat perjumpaan nanti, Sabari tampil sebagai seorang juara. Ya juara dengan piala hasil lomba balap lari marathon sejauh 40 kilometer dengan peserta ribuan pelari Belitong.

Oh Sabari yang begitu sabar, ia tahu bahwa usianya kini telah berkepala tiga. Latihan ekstra dibawah arahan sahabatnya sewaktu SMA yang bercita-cita jadi Menteri Olahraga tapi kenyataannya jadi guru olahraga, tak membuahkan kemenangan bagi Sabari. Tapi Sabari adalah Sabari, lelaki penyabar yang benar-benar bersabar sekalipun dalam balap lomba lari ia kalah. Pemenang telah pulang memboyong piala, para peserta lainnya juga sudah bubar pulang. Tapi Sabari, dengan kedua kaki yang mulai berdarah dan perih karena sepatu yang awalnya sampi rusak dan kemudian dibuangnya, tetap berlari. Sabari tak berhenti berlari walau jarak tersisa sepuluh kilometer lebih lagi.

Sabari oh Sabari. Jika ada orang yang tak menjadi juara tetapi lebih terkenal daripada sang juara, orang itu adalah Sabari. Betapa kesabaran Sabari untuk tetap berlari sampai malam hari membuat penyiar radio lokal memotong siaran, memberitakan bahwa masih ada seorang pelari yang tetap meneruskan lomba walau telah bubar. Membuat orang-orang ramai tergerak menunggu Sabari di garis finish. Membuat teman satu SMAnyu datang dan berlari menyelimuti Sabari dengan bendera merah putih. Sabari yang sabar itu tetap benar-benar berlari dengan menyeret kaki kirinya yang berdarah, wajahnya yang pucat dengan keadaan pakaiannya yang compang-camping. Sabari tiba di garis finish seketika orang-orang yang hadir berteriak histeris. “Merdeka… Merdeka!!!”

Sabari yang dihadiahkan sebuah piala kecil oleh seorang pengantar surat perceraiannya tempo dulu itu saling bersalaman dan mengucapkan selamat. Sabari telah dianggap juara kehidupan bagi petugas pemerintahan KUA itu begitupun seluruh masyarakat di daerahnya.

Yang tak kalah berharga dan paling membuat Sabarisetelah dia bersabar bertahun-tahun lamanya, anak lelaki yang selalu diperjuangkannya itu telah kembali dalam pelukannya. Kesabaran Sabari dalam meneguhkan cinta tak semata kepada pujaan hatinya, istri atau mantan istrinya, tapi juga buah hati dari mantan istrinya.

Sabari memang tak pernah membuahkan sel dari rahim mantan istrinya itu tapi hidup bersama anak lelaki yang dicintainya itu, Sabari dengan sabar mengasuhnya mampu membuahkan cinta yang begitu berarti bagi anak itu.

Sabari yang demikian sabar itu dikisahkan pada pertengahan 2013 meninggal. Makamnya sering dilihat orang karena di pusaranya ada puisi bertuliskan,

Biarkan aku mati dalam keharuman cintamu

Pada akhir 2014 juga mantan istri Sabari menyusul tutup usia. Sebelumnya juga ia berwasiat kepada suami terakhirnya itu untuk kelak dimakamkan disamping makam Sabari lengkap dengan sebuah tulisan diatas pusaranya juga,

Purnama kedua belas

Kesabaran dalam meneguhkan cinta bagi seorang laki-laki perjaka atau saat sudah menikah nanti, sosok Sabari bolehlah dijadikan contohnya.

Seperti dikisahkan Amiru kepadaku,

Seperti itulah pula kita mengenal sosok Sabari yang luarbiasa dengan kesabaran dan keteguhan hatinya dalam menggenggam cinta untuk kemudian memberikannya kepada siapa saja yang telah dia pahat kuat-kuat dalam dalam hatinya.

Temukan kisah Sabari muda mengejar cinta selengkapnya dalam novel “Ayah” karya Andrea Hirata (Bentang: 2015)

Baca juga: Tipu Daya Memori Manusia dalam Novel Thriller, Sebuah Ulasan “The Girl on the Train” oleh Paula Hawkins

Comments

comments