Browse By

“ARABIAN NIGHTS” Warisan Kesusasteraan dari Timur Tengah

Sastra bukan sekedar gaya bahasa atau bercerita. Sastra memiliki kekuatan persuasif yang kuat. Amanat dan nasihat tersampaikan tanpa terasa baku dan kaku. Pengetahuan kita bertambah, pengertian kita menajam dan dengan sastra tentunya kita bisa menemukan bahwa segala sesuatu dalam hidup itu bermakna.

Betapa kisah-kisah telah begitu banyak tercipta selama berabad-abad. Bukan sekedar menjelma menjadi sebuah buku, film di layar kaca, atau layar lebar, jauh sebelum itu kisah-kisah itu beredar secara lisan. Seperti di Baghdad, Damaskus, atau Kairo, di tengah pertemuan-pertemuan keluarga, perkumpulan-perkumpulan masyarakat, dan kedai-kedai kopi, setiap kisah yang diceritakan berhasil memikat orang-orang tua maupun muda.

Baca dulu: Tentang Kamu yang Tegar dan Bersabar

Khalifah Harun Al-Rasyid merasa lebih puas kalau dapat memenuhi rasa kagumnya dengan jalan mendengarkan sebuah kisah daripada memenuhi rasa keadilan atau kehausannya akan balas dendam. Dan seorang Raja Cina menyelamatkan empat nyawa ketika dia akhirnya mendengarkan sebuah kisah yang lebih aneh dibandingkan satu episode yang aneh dari kehidupannya sendiri.

Kisah 1001 Malam memang dikenal sebagai kisah-kisah yang melegenda di kawasan Timur Tengah. Namun tak seorang pun mengetahui secara tepat kapan suatu kisah lahir. Dalam proses penceritaan kembali, kisah-kisah itu diubah-ubah sesuai dengan kehidupan umum dan adat-istiadat masyarakat Arab yang mengadaptasinya. Al-Mas’ud dan Ibn Al-Nadim, ahli sejarah Arab dari abad kesepuluh membicarakan adanya kumpulan kisah pada masa itu. Seperti Seribu Kisah atau Seribu Malam, suatu terjemahan dari sebuah karya berbahasa Persia berjudul Hazar Afsana (Seribu dongeng). Meski kedua karya itu sekarnag sudah hilang namun Hazar Afsana telah menyumbangkan sebuah judul yang populer dan juga bagan umum dan pembagiannya pada satu kumpulan, Seribu Satu Malam.

Buku ini diterjemahkan berdasarkan naskah Suriah abad ke-14 oleh Husain Haddawy, pria yang lahir di Baghdad dan sekarang menjadi Profesor bahasa Inggris di Universiy of Nevada. Terdiri atas empat kategori cerita rakyat—kisah binatang, dongeng, roman dan komik serta hikayat-hikayat sejarah. Dua yang terakhir itu sering digabungan menjadi satu kategori. Cerita rakyat itu dipenggal-penggal menjadi bermalam-malam dengan panjang cerita yang beragam.

Apakah buku dengan jumlah 700 halaman ini memuat 1001 kisah? Tentu bukan, 1001 adalah jumlah malam yang diceritakan dalam buku ini. Namun buku ini memuat dua ratus lebih kisah yang menyentuh hati, antara asmara, duka nan lara, penderitaan yang mengharukan, keindahan nan agung hingga humor nan bersahaja. Penerbit Qanita mengkategorikan buku ini sebagai novel karena memang ratusan kisah tadi menyusup pada alur cerita buku.

Cerita dimulai dengan dua orang kakak beradik bangsawan masa pemerintahan wangsa Sasaniah (Dinasti raja-raja Persia 226-641 M). Yang lebih tua bernama Syahrayar, dan yang lebih muda bernama Syahzaman. Syahrayar hidup dan memerintah di India dan Indocina, sementara adiknya diberi tanah di Samarkand untuk dikuasai. Sepuluh tahun kemudian, Syahzaman mengunjungi kakaknya dengan begitu depresi. Pasalnya sebelum pergi, Syahzaman membunuh istrinya dan pemuda juru masak istana yang dia dapati tengah berselingkuh.

Di istana kakaknya, Syahrayar pergi berburu dan meninggalkan adiknya yang dia pikir tidak mau ikut karena sedang merindukan keluarganya di rumah. Suatu petaka pun kembali terjadi, kali ini menimpa kakaknya. Syahzaman mendapati Istri Syahrayar juga dengan sepuluh selirnya berselingkuh dengan para budak. Bukan malah tambah depresi Syahzaman malah tersadar, bahwa ternyata dia bukanlah satu-satunya orang yang menderita tetapi semua orang juga bisa menderita bahkan lebih darinya.

Syahrayar yang telah kembali ke istana mendapati adiknya terlihat kembali normal, bertanya soal bagaimana Syahzaman ketika dating terlihat murung dan dalam waktu singkat berubah membaik. Syahzaman pun menjelaskan kemalangan yang dia derita dan yang terjadi di istana ketika Syahrayar pergi. Mendengar itu Syahrayar tak percaya hingga kemudian mereka merencanakan sesuatu. Berhasil, Syahrayar dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan istri dan kesepuluh selirnya berbuat seperti apa yang dilaporkan adiknya. Syahrayar dan Wazirnya pun membunuh kesemuanya itu.

Lain adik lain kakaknya, Syahrayar mengalami depresi yang lebih parah. Ia benar-benar dibuat kecewa oleh kaum hawa. Syahrayar kemudian bersumpah akan meniah hanya untuk semalam dan membunuh wanita itu keesokan harinya. Dan hal itu terjadi sampai semua gadis mati kecuali kedua putri sang Wazir yang dibiarkan tetap hidup. Anehnya putri pertama sang Wazir, Syahrazad malah meminta izin untuk bisa menikah dengan Syahrayar. Sang ayah awalnya tak mengizinkan tapi pada akhirnya dibolehkan karena Syahrazad begitu bersikeras.

Menarik karena Syahrazad adalah seorang gadis yang gemar membaca buku-buku kesusasteraan, filsafat dan ilmu pengobatan. Keputusan dia menikah denga Raja Syahrayar juga bukan tindakan konyol. Ia bersiasat dengan adiknya Dinarzad.

“Dik, dengarkan baik-baik apa yang kukatakan kepadamu. Jika aku menemui sang Raja, aku akan menyuruh menjemputmu, dan jika engkau dating dan melihat bahwa sang Raja telah selesai denganku, katakanlah, ‘Kak, jika engkau belum mengantuk, ceritakan kepada kami sebuah dongeng.’ Lalu, akan mulai mendongeng, dna hal itu akan membuat sang Raja menghentikan perbuatannya, menyelamatkan hidupku sendiri, dan membebaskan rakyat.” –hal.68

Karenanya kita akan membaca buku ini serupa menonton sinetron. Akan ada episode-episode dari setiap malam. Namun tentu kita akan terus keranjingan karena setiap episode memiliki kisah yang berbeda dengan ending yang bisa membuat penasaran soal kelanjutannya. Tidak hanya bagi pembaca, tokoh-tokoh utama juga ikut terpengaruh dan ikut terikat dalam struktur cerita sampai akhir halaman. Amazing!

Kesusasteraan Timur Tengah juga dikenal dengan dunia syair. Maka tak mengherankan jika ciri khas Kisah 1001 Malam itu penuturan prosanya diselang-seling dengan puisi. Puisi disisipkan agar sesuai dengan peristiwanya, untuk menambahkan warna pada penggambaran suatu tempat atau seseorang, mengungkap kegembiraan atau kesedihan, memuji seorang wanita, atau menggarisbawahi suatu ajaran moral.

“Jujurlah, meski kejujuran itu

Akan menyiksamu dengan api neraka,

Dan senangkanlah Tuhanmu dan bukan budak-budak-Nya,

Untuk menghindari kemarahan-Nya.” –hal.290

Yang mengejutkan adalah kisah Aladdin dan Lampu Ajaib tidak dimuat dalam buku ini. Hal ini sudah diungkapkan Husain Haddawy diawal pada bab Pendahuluan. Ia menilai bahwa kisah Aladdin tidak ada dalam naskah atau edisi Arab mana pun yang telah dikenal, kecuali dalam dua naskah yang ditulis di Paris, jauh sesudah muncul dalam terjemahan Galland. Dalam buku hariannya, Galland mula-mula mendengar kisah itu pada 1709 dari Hanna Diab, seorang Kristen Manorit dari Aleppo.

“Kali pertama kisah itu muncul dalam bahasa Arab adalah pada 1787, dalam sebuah naskah yang ditulis oleh seorang pendeta Kristen Suriah yang hidup di Paris, bernama Dionysius Shawish, alias Dom Denis Chavis, suatu naskah yang dirancang untuk melengkapi bagian-bagian yang hilang dari naskah Suriah abad keempat belas. Kisha itu muncul lagi dalam sebuah naskah yang ditulis antara 1805 dan 1808 di Paris oleh Mikhail Sabbagh, seorang Suriah yang menjadi kaki tangan Silvestre de Sacy.”­ –hal.16

Selama berabad-abad Kisah 1001 Malam telah memikat imajinasi para pendengar atau pembaca hampir di seluruh belahan dunia. Maka tak heran jika kita sering mendapati beberapa perbedaan dalam sebuah buku, film atau pertunjukan sekalipun memiliki kesamaan judul. Namun selain menyuguhkan kisah-kisah, buku ini juga memuat penjelasan soal kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan oleh beberapa penerjemah di ratusan tahun yang lalu pada halaman Prakata penerjemah.

Akhirnya membaca Arabian Nights Kisah 1001 Malam edisi ini membuat kita memahami banya hal. Nyatanya bahwa karya sastra adalah sebuah warisan dan kisah-kisah bermuatan hikmah juga akan mampu meredam egoisme dan membentuk kebijaksanaan. Maka sepatutnya buku ini layak masuk dalam daftar koleksi perpustakaan pribadi bahkan madrasah sebagai bentuk apresiasi terhadap ruang kesusasteraan Arab.(ocd)

arabian nights

Judul Asli: The Arabian Nights

Diterjemahkan oleh Husain Haddawy

Berdasarkan naskah Suriah abad ke-14

Judul: Arabian Nights (Kisah 1001 Malam)

Penerbit: Qanita

ISBN: 978-602-402-046-0

Dimensi: 700 h.; 20,5 cm

Baca juga: Tips Santai Biar Harimu Makin Produktif

 

Comments

comments