Browse By

Pelajaran Dari Sang Mantan: Indahnya Mendua

Dear Mantan,

Konon katanya, kamu adalah tulang rusuk pinjaman. Ada juga yang bilang, kamu adalah jodoh yang dianulir Tuhan. Status mantan yang sama-sama kita dapati ini terjadi bukan hanya karena faktor sudah tidak saling mencintai, tapi ini mengarah pada sebuah alasan klasik namun bergengsi, yaitu: Aku terlalu baik.

“Aku nggak pantas, kamu terlalu baik buat aku!”  

Ini yang dulu kamu bilang. Kalau aku terlalu baik, lantas pria seperti apa yang ingin kamu cari, Preman atau Psikopat ? Pyuh!

Terlalu klasik bukan jika kita menyandang predikat mantan hanya karena udah ngga cocok? Itu lagu lama, ada alasan brengsek namun bergengsi yang sama-sama pernah kita lakukan, yaitu: mendua.

Baca dulu: Dear Mantan Terindah, Dariku Yang Ditinggalkanmu Menikah

Kamu yang dulu mendua pertama, kamu juga yang menangis dan memohon untuk dimaafkan. Bodohnya aku, memaafkan kamu dan terus memaafkan. Sehingga pada suatu hari, aku tahu kamu mendua dan aku mulai bertanya-tanya. Apa indahnya mendua, sehingga bisa membuatmu mengulang kesalahan yang sama ?

Akhirnya aku mencoba, dan akhirnya aku merasakan nikmat yang sama. Nikmatnya mendua, nikmat yang selama ini kamu jaga tanpa mau berbagi rasa.

Aku ingin mengucapkan rasa terima kasih, namun tak kuasa dengan sumpah serapah yang dulu pernah aku ucapkan layaknya titah. Darimu aku belajar indahnya mendua, membagi rasa yang sama dengan dua orang yang berbeda.

Pintar Membagi waktu

Banyaknya organisasi yang pernah aku ikuti, sama sekali tidak menjadikanku pribadi yang pintar mengatur waktu. Tapi dengan hadirnya dirimu, hanya dalam hitungan bulan, aku bisa mengatur waktu serapi mungkin. Iya rapi, hampir tanpa celah. Mendua yang kamu ajarkan, mengharuskanku mengatur dan membagi waktu dengan hati. Hati yang membagi sama rata rasa, cinta dan dusta.

Pintar Bersandiwara

Aku mengenalmu, sangat mengenalmu. Tuhan menciptakanmu dalam kesederhanaan. Tak perlu kamu pandai bersolek, kamu sudah cantik sesuai titahNya. Polosnya sikapmu dan lugunya tingkahmu, menjadikanku pria paling beruntung saat itu. Iya, hanya saat itu.

Hingga pada suatu hari, aku melihatmu dengan bakat yang berbeda. Kamu tiba-tiba pintar bersandiwara, kamu sudah seperti Luna (Acha Septriasa) yang berhasil mengambil hati Farrel (Irwansyah) dari sahabat kecilnya Rachel (Nirina Zubir) dalam filmnya “Heart”. Hatiku pun tersentuh entah keberapa kalinya dengan semua tangisan palsumu.

Mendua sepertinya bisa menjadikanmu aktris papan atas, lantas aku pun mengikuti jejakmu.

Baca juga: Untuk Kamu Yang Begitu Berarti, Terimakasih dan Terimakasih Sekali

Dear Mantan,

Tidak hanya mengajarkan bagaimana pintar mengatur waktu dan bersandiwara, kehadiranmu juga sekaligus peringatan dari sang pemberi Titah, bahwa ada cinta yang tidak akan memberi luka, cinta pada sang maha kuasa.

Dirimu bagaikan anugerah yang diselimuti dusta. Bagaimana tidak, awal cinta aku merayu merangkai indah kata. Di akhir cinta, aku mengutuk mengucap sumpah serapah. Tapi bagaimana pun juga kamu adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan walau hanya untuk dijadikan pelajaran bukan pendamping kehidupan.

Dari mantanmu, yang kamu ajarkan mendua.

Comments

comments