Browse By

Dear Mantan Terindah, Dariku Yang Ditinggalkanmu Menikah

Dear Mantan.

Cinta menjadi alasanku menuliskan ini, untukku sendiri dan dirimu yang kini pergi setelah tak lagi aku miliki. Bukan soal perkara masih suka atau cinta yang disesalkan karena tak berujung pada pernikahan, ini tentang soal satu kata: arti.

Orang lain boleh menggonggongkan cemooh, mengucilkan martabat dan merendahkan semangatku yang ditinggal nikah olehmu. Tapi kamu dan semesta harus tahu, aku masih punya hati dan deretan kisah kebersamaan kita dahulu yang tentu saja, berarti.

Kunyatakan kata arti dalam tulisan ini agar kamu mau memahami, bahwa bersamamu dulu dan berapapun waktu sebentar atau lamanya, kini aku telah menyadari satu hal. Adalah pelajaran berharga, begitu kiranya yang kuakui dalam lubuk hati, ketimbang ejekan orang yang memastikan kalau aku sebetulnya sakit hati.

Pelajaran berharga berikut ini bukan caraku untuk menggodamu, merenggut hatimu kembali untukku. Tapi aku hanya ingin kamu turut berbangga hati, aku yang siuman dari kejatuhan perasaan sekarang telah tampil menawan dengan segala kedewasaan pikiran dan perbuatan karena ada kamu yang turut hadir mengisi hatiku di masa silam.

Baca duluUntuk Kamu Yang Begitu Berarti, Terimakasih dan Terimakasih Sekali

Ketabahan

Alasan-Kenapa-Mantan-Ngundang

Aku kudu sabar via malesbanget.com

Tabah adalah penawar rasa sakit untuk hati yang ditinggal pergi. Ia juga menjelma jadi penutup muka saat melihatmu berpasangan di depan pengurus KUA.

Tabah menjadi karakter yang terbangun sendiri setiap kali banyak orang terdekat atau kerabat mengolok-ngolok soal nasib yang mendera. Isengnya mereka sampai membuat judul cerita “Ratapan dari Balik Undangan Nikah Mantan” dengan aku sebagai pemeran utamanya. Sampai kelak aku bisa menyusul nikah, kata tabah menjadi ilmu dasarku dalam menghadapi setiap masalah.

Keikhlasan

nikahan-mantan

Aku kudu ikhlas via www.bintang.com

Cinta muncul dari perasaan. Ia menyatukan dua hati, dan rasa sepi bisa menjadi saling terisi. Begitu sakitnya hati saat yang sebelumnya telah menyatu itu pergi. Pastinya kelain hati dan hidup tumbuh dalam ikatan suci.

Jika menerima kita bersyukur maka memberi juga kita harus bersikap ikhlas. Aku bersyukur penuh atas penerimaan nasib baik, bersamamu. Namun kepergianmu dariku dan pilihanmu menjalani hidup bukan denganku juga adalah sebuah keputusan yang turut kuberikan dengan segala kerelaan. Tak lupa, penuh keikhlasan.

Kini aku juga menyadari bahwa seperti hirup dan hembusan nafas, penerimaan dalam hidup yang sementara dan pergi karena kehendak Maha Kuasa ini harus direlakan seikhlas-ikhlasnya.

Berjuang Menyusul

pernikahan-mantan

Aku kudu nikah

Mencari oranglain, menggantikan hatimu yang pergi untuk keutuhan hatiku ini bisa saja dilakukan. Tapi tak mudah seperti menelan ludah. Aku harus menyadarkan diri, apa yang kumiliki? Jika hanya bermodal cinta dengan segala janji menuju KUA yang baru bisa dibuktikan dalam kurun waktu puluhan tahun untuk apa? Hanya menciptakan nasib ditinggal menikah kesekian kalinya saja, bukan?

Datang ke acara pernikahanmu dengan hati yang kosong, amplop yang tipis dan mengharapkan hatimu kembali juga kian menipis. Moment ini tentunya telah menjadi tamparan bagiku bahwa hati tak cukup diisi. Hati yang tak sepi harus diikat sesuai syariat dan disaksikan oleh para keluarga pria dan wanita serta para teman sejawat.

Dear mantan.

Kamu tetap terindah walau bukan aku yang menjadi pasanganmu saat menikah. Karena kamu dengan kepergianmu itu menjadi singgahanku belajar fase kehidupan.

Dan cinta seperti kata pertama yang mengawali tulisan ini memang untukmu, tapi bukan untuk selamanya melainkan sampai akhir kata tulisan ini. Aku harus mengambil hatiku kembali, begitu sebaliknya. Memperbaiki dan memperindah hati sebaik mungkin untuk pasangan masing-masing kita nanti.

Baca juga: Datang ke Nikahannya Mantan Mah Udah Biasa, Nyanyi di Resepsinya Baru Luar Biasa!

Comments

comments